Sabtu, 05 Mei 2012

makalah




HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM
 




DI
S
U
S
U
N
OLEH:
KELOMPOK 15
                                    ANGGOTA    :
1.DEMAI JAFNIYANTI        (1102020060)
2.SAFRIDA                            (1102020076)
3.MAHFUZH                         (1002020149)

DOSPEN         : MUKHLISUDDIN, Mp.d


 





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ALMUSLIM MATANG GLUMPANGDUA-BIEREUN-ACEH
2012
DAFTAR ISI


HAKIKAT MANUSAI DALAM PANDANGAN ISLAM
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I: PENDAHULUAN..................................................................................
1.1  LATAR BEL```AKANG....................................................................
1.2  RUMUSAN MASALAH...................................................................
1.3  TUJUAN PENULISAN.....................................................................
BAB II:PEMBAHASAN ....................................................................................
2.1 PENGERTIAN...................................................................................
2.2 KELEBIHAN MANUSIA DARI MAKHLUK LAIN....................
2.3FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA DALAM ISLAM.           
2.4 HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDAGAN ISLAM................
BAB III: PENUTUP............................................................................................
3.1 KESIMPULAN .................................................................................
3.2 SARAN...............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................






ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

            Manusia pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT dan juga makhluk sosial. Dalam pandangan Islam, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya.

      Dalam perjalanan hidupnya peran manusia semakin terlupakan. Padahal dengan semua kelebihan yang dimilikinya manusia sudah selayaknya menjalankan peran dan tugasnya. Oleh karena itu, hakikat manusia yang sebenar-benarnya harus diresapi dengan baik agar manusia itu sendiri kembali pada tujuan asal mulanya dia diciptakan.

1.1  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas timbul beberapa masalah, diantaranya :
1. Apa kelebihan manusia dari makhluk lainya?
2. Apa fungsi dan tanggung jawab manusia dalam islam?
3. Bagaimana hakikat masusia menurut pandangan Islam !

1.2  TUJUAN PENULISAN
      Berdasarkan rumusan masalah, kami menentukan tujuan dalam penulisan makalah ini, adalah:

 Menjelaskan hakikat manusia menurut pandangan islam.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN
     Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan menggunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak .

     Di dalam Al-Quran, manusia disebut antara lain dengan bani Adam (Q.S. Al-Isra:70), basyar (Q.S. Al-Kahfi:10), Al-Insan (Al-Insan:1) , An-Nas (114):1). Berbagai rumusan tentang manusia pun telah diberikan orang. Salah satu diantaranya, berdasarkan studi isi Al-Quran dan Al-Hadist, berbunyi sebagai berikut: Al-Insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan menggunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak (N.A Rasyid , 1983:19).

2.2 KELIBIHAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK LAINNYA
      Manusia dibandingkan makhluk lain mempunyai berbagai ciri utama, yaitu:
Makhluk yang paling unik , dijadikan dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna. Firman Allah:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin:4)
Keunikan manusia dapat terlihat pada bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang ditimbulkan jiwanya, mekanisme yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses pertumbuhannya melalui tahapan tertentu, dan sebagainya. Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya, ketergantungannya pada sesuatu, menunjukkan adanya kekuasaan yang berada diluar manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah karena itu sepantasnya menyadari kelemahannya. Kelemahan manusia berupa sifat yang melekat ada dirinya disebutkan Allah dalam Al-Quran, diantaranya adalah:
a. Melampaui batas (QS. Yunus : 12)
b. Zalim dan mengingkari karunia Allah (QS. Ibrahim : 34)
c. Tergesa-gesa (QS. Al-Isra: 11)
d. Suka membantah (QS. Al-Kahfi : 54)
e. Berkeluh kesah dan kikir (QS. Al-Maarij: 19-21)
f. Ingkar dan tidak berterima kasih (QS. Al-Adiyat : ^)

Namun untuk kepentingan dirinya manusia ia harus senantiasa berhubungan dengan penciptanya, dengan sesama manusia, dengan dirinya sendiri, dan dengan alam sekitarnya. Manusia memiliki potensi beriman kepada Allah. Sebab sebelum ruh Allah dipertemukan dengan jasad di rahim ibunya, ruh yang di alam ghaib itu ditanyai Allah, sebagaimana dalam Al-Quran:

Apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuhan kalian? (para ruh itu menjawab)” ya kami akui Engkau adalah Tuhan kami”. (QS. Al-„Araf :172)

Dengan pengakuan tersebut sesungguhnya manusia sejak awal telah maengakui Tuhan, telah ber-Tuhan, berke-Tuhanan. Pengakuan dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan tuh yang ditiupkan ke dalam rahim wanita yang sedang mengandung manusia itu berarti bahwa manusia mengakui adanya kekuasaan Tuhan, termasuk kekuasaan Tuhan menciptakan agama untuk pedoman hidup manusia di dunia ini. Ini bermakna pula bahwa secara potensial manusia percaya atau beriman kepada ajaran agama yang diciptakan Allah yang Maha Kuasa.

 Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya dalam Al-Quran surat az-Zariyat:

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.” (BS. Az-Zariyat: 56)

Mengabdi kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum. Pengabdian melalui jalur khusus diaksanakan dengan melakukan ibadah khusus yaitu segala upacara pengabdia langsung kepada Allah yang syarat-syaratnya, dan cara-caranya telah ditentukan oleh Allah sendiri sedang rinciannya dijelaskan oleh Rasul-Nya, seperti ibadah shalat, zakat, shaum, dan haji. Pengabdian melalui jalur umum dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan yang disebut amal saleh yaitu segala perbuatan positif yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat, dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridaan Allah.



 Manusia dilengkapi dengan akal perasaan dan kemauan atau kehendak.

Dengan akal dan kehendaknya manusia akana tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim. Tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya, menajdi kafir. Karena itu di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:

Dan katakana bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang mau beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Dalam surat Al-Insan juga dijelaskan:

Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus (kepada manusia), ada manusia yang syukur, ada pula manusia yang kafir”. (QS. Al-Insan: 3)

     Allah telah menunjukkan jalan kepada manusa dan manusia dapat menjalani jalan itu dan dapat pula tidak mengikutinya. Memang dengan kemampuanya atau kehendaknya yang bebas manusia dapat memilih jalan yang akan ditempuhnya. Namun dengan pilihannya itu manusia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, yaitu pada hari perhitungan mengenai segala amal perbuatan manusia ketika masih di dunia. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran:
Setiap orang terikat (bertanggung jawab atas apa yg dilakuannya.” (QS. St-Thur: 21)
--Manusia memiliki akhlaq.

     Berakhlaq adalah ciri utama mausia dibandngkan makhluk lain. Artinya manusia adalah makhluk yang diberikan Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk. Dalam Islam kedudukan akhlak sangat penting, ia menjadi komponen ketiga dalam Islam. Kedudukan ini dapat dilihat di dalam sunnah Nabi.
yang mengatakan bahwa beliau diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.
   Suri tauladan Nabi yang dlakukan semasa hidupnya seharusnya menjadi contoh bagi umat manusia terutama manusia yang beriman. Selain dari keteladanan Rasulullah, banyak butir-butir tuntunan menuju akhlak mulia itu terdapat di dalam Al-Quran dan AlHadits. Butir0butir ajaran ini berlaku abadi, universal, seanjang masa dan dimana saja.


2.2 FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA DALAM ISLAM

Allah SWT dengan kehendak kebijaksanaanNya telah mencipta makhluk- makhluk yang di tempatkan di alam penciptaanNya. Manusia di antara makhluk Allah dan menjadi hamba Allah SWT. Sebagai hamba Allah tanggungjawab manusia adalah amat luas di dalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.

Tanggungjawab manusia secara umum digambarkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis berikut. Dari Ibnu Umar RA katanya; “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:


     “Semua orang dari engkau sekalian adalah pengembaladandipertanggungjawabkan   terhadap apa yang digembalainya. Seorang laki-laki adalah pengembala dalam keluarganya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Seorang isteri adalah pengembala di rumah suaminya dan akan ditanya tentang pengembalaannya.Seorang khadam juga pengembala dalam harta tuannya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Maka semua orang dari kamu sekalian adalah pengembala dan akan ditanya tentang pengembalaannya.”
(Muttafaq „alaih)

        Allah menciptakan manusia ada tujuan-tujuannya yang tertentu. Manusia dicipta untuk dikembalikan semula kepada Allah dan setiap manusia akan ditanya atas setiap usaha dan amal yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan ke atas dirinya perlu dilaksanakan.

2.3 HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM
  

   Dari sudut pandang psikologi, pandangan tentang hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu sifat-sifat khas (karakteristik) segenap umat manusia (Chaplin, 1997: 231). Hakekat manusia yang dimaksud dalam kajian ini ialah sesuatu yang esensial dan merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya.

    Para pemikir Islam seperti Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd (Muhaimin & Mujib, 1993) menyatakan bahwa manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur, yaitu unsur yang bersifat materi (jasmani) dan unsur yang bersifat immateri (rohani). Pernyataan bahwa manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur mengan-dung makna bahwa unsur-unsur tersebut merupakan satu totalitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan, atau dengan kata lain tidak bisa dikatakan sebagai manusia jika salah satu diantara dua unsur tersebut tidak ada. Namun pembahasan ini hanya difokuskan pada unsur immateri (rohani) saja. Istilah yang sering disebut dalam


Alquran untuk menggambarkan unsur manu-sia yang bersifat rohani adalah ruh dan nafs.
Ruh Dalam surah al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman :

 إٔر ق بل سث ك ن ه هً ئ كخ ا يَ خبن ق ث ششا يٍ ص ه صبل يٍ د ئً ي سٌُٕ . ف برا س يٕ  زّ
فَٔخذ ف يّ يٍ س دٔي ف ق ع إنّ سبجذيٍ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud
   
Sebagaimana yang digambarkan dalam ayat di atas, ruh adalah unsur terakhir yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia, dengan demikian dapat diambil pemaha-man bahwa ruh adalah unsur yang sangat penting karena merupakan unsur terakhir yang menyempurnakan proses penciptaan manusia. Ruh juga dikatakan sebagai bagian unsur yang mulia, hal ini tersirat dari perintah Allah.

         kepada para malaikat (termasuk pula iblis) untuk sujud kepada manusia sebagai tanda penghormatan setelah dimasuk-kannya unsur ruh.

      Apakah ruh itu?. Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Rasulullah saw sebagaimana yang tergambar dalam surah al-Isra ayat 85 sebagai berikut:

 ئ س ئ ه كَٕ عٍ ان ش حٔ . ق م ان ش حٔ يٍ ايش سث ي ئب ا رٔ  ي زى يٍ ان ع هى ا لا ق ه يلا
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
  
       Ayat di atas menyiratkan bahwa pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatas sehingga tidak mungkin dapat mengetahui hakikat ruh secara detail. Sekalipun ayat di atas menyatakan bahwa pengetahuan manusia tidak akan mencapai pemahaman yang rinci tentang hakikat ruh, tetapi tidak satupun terdapat ayat Alquran yang menghalangi atau melarang para ulama atau cendikiawan muslim untuk berusaha memahami hakikatnya (Syaltout, 1972). Pintu untuk menyelidiki tentang hakikat ruh masih terbuka dengan selebar-lebarnya (Surin, 1978). Mempelajari proses penciptaan manusia sebagaimana yang digambarkan da-lam Alquran, paling tidak akan memberikan sedikit pemahaman tentang sifat-sifat ruh sebagaimana yang dinyatakan oleh Ansari (1992: 3) sebagai berikut: Thus obvious that a direct and detail understanding of the nature of the ruh is not available. However, if we look at other relevant sections of the Quran which describe the process of creation, we might be able to obtain at least some understanding of its nature.



    Dalam memahami sifat-sifat ruh, ada beberapa ulama dan para sarjana muslim yang mencoba memahaminya dengan berpijak pada disiplin ilmunya masing-masing, mereka di antaranya sebagai berikut:

      Al-Qayyim (1991), dan Al-Razy (Ash-Shiddieqy, 1969 dan Hadi, 1981), ber-pendapat bahwa ruh adalah suatu jisim (benda) yang sifatnya sangat halus dan tidak dapat diraba. Ruh merupakan jisim nurani yang tinggi dan ringan, hidup dan selalu bergerak menembus dan menjalar ke dalam setiap anggota tubuh bagaikan menjalarnya air dalam bunga mawar. Jisim tersebut berjalan dan memberi bekas-bekas seperti gerak, merasa, dan berkehendak. Jika anggota tubuh tersebut sakit.


     Dan rusak, serta tidak mampu lagi menerima bekas-bekas itu, maka ruh akan bercerai dengan tubuh dan pergi ke alam arwah.
       Al-Ghazali (1989) membagi ruh dalam dua pengertian. Pertama, ruh yang bersifat jasmani yang merupakan bagian dari tubuh manusia, yaitu zat yang amat halus yang bersumber dari relung hati (jantung), yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia hidup dan bergerak, serta merasakan ber-bagai rasa. Ruh ini dapat diibaratkan sebuah lampu yang mampu menerangi setiap sudut ruangan (organ tubuh). Ruh sering pula diistilahkan dengan nafs (nyawa). Kedua, ruh yang bersifat rohani yang merupakan bagian dari rohani manusia yang sifatnya halus dan gaib. Ruh ini memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal diri-nya sendiri, mengenal Tuhannya, dan memperoleh serta menguasai ilmu yang bermacam-macam. Ruh pula yang menyebabkan manusia berperikemanusiaan dan berakhlak sehingga memjadikannya berbeda dengan binatang.


    Syaltout (1972) berpendapat bahwa ruh adalah suatu kekuatan yang dapat menyebabkan adanya kehidupan pada makhluk seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruh pada diri manusia disamping dapat memberikan kehidupan juga mem-berikan kemampuan kepada manusia untuk merasa dan berpikir. Hakekat ruh sulit ditangkap tetapi keberadaannya dapat dirasakan.
Ansari (1992) menyatakan, salah satu kapasitas khusus yang hanya dimiliki oleh manusia -- tidak dimiliki oleh makhluk lain -- disebabkan karena adanya ruh adalah kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan yang luas. Pernyataan Ansari tersebut didasarkan pada Alquran surah al-Baqarah ayat 31 sebagai berikut:
عٔ

 هى ادو الا س بًء ك ه بٓ ...
Artinya: “Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya 
     Adam diajarkan oleh Allah swt berbagai nama-nama benda setelah unsur ruh ditiupkan kedalam tubuhnya, hal ini menyiratkan bahwa keberadaan unsur ruh menyebabkan manusia mempunyai kemampuan untuk menerima dan memperoleh pengetahuan yang luas.

    Pulungan (1984) menyatakan bahwa ruh adalah sumber kemanusiaan. Manusia merasa senang, cinta, benci, marah, bahagia, gembira, bermoral, berakhlak, mem-punyai rasa malu dan beradab, semuanya adalah akibat dari adanya ruh yang ditiupkan Allah pada tubuh manusia.



         Menurut Arifin (1994), keberadaan ruh pada diri manusia dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya daging, tulang, darah, kulit, dan bulu, ruh pula yang menyebabkan tubuh manusia dapat bergerak, berketurunan, dan berkembangbiak. Di sampimg itu ruh pula yang membuat manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, berkesadaran, dan berpengertian.
Di samping ruh, istilah lain yang dijumpai dalam Alquran untuk menamakan unsur rohani manusia ialah nafs. Ruh dan nafs adalah dua buah istilah yang pada hakikatnya sama.

·         Nafs



      Ruh dan nafs hakikatnya sama, diberi istilah yang berbeda adalah untuk membedakan sifat dan fungsinya masing-masing. Menurut Amjad (1992), istilah ruh hanya digunakan untuk menunjukkan unsur rohani manusia pada tingkatan yang lebih tinggi dari nafs, ruh dipandang sebagai dimensi khas insani yang merupakan sarana gaib untuk menerima petunjuk dan bimbingan Tuhan, serta mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan, sedangkan istilah nafs digunakan untuk menggambarkan unsur rohani manusia yang mengandung kualitas-kualitas insaniyah atau kemanusiaan.


          Dalam Alquran ditemukan tiga buah istilah yang dikaitkan dengan kata nafs, yaitu al-nafs al-mutmainnah seperti yang terdapat dalam surah al-Fajr ayat 27, al-nafs al-lawwamah seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyaamah ayat 2, dan al-nafs laammaratun bi al-su seperti yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 53. Ketiga buah istilah yang dikaitkan dengan kata nafs tersebut menyiratkan adanya tiga buah pembagian kualitas unsur rohani yang terdapat pada manusia.


           Al-nafs al-mutmainnah secara etimologi berarti jiwa yang tenang, dinamakan jiwa yang tenang karena dimensi jiwa ini selalu berusaha untuk meninggalkan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik sehingga memperoleh ketenangan. Dimensi jiwa ini secara umum dinamakan qalb atau hati (Ahmad, 1992; Mujib, 1999).

    Al-nafs al-lawwamah secara literlik berarti jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri, maksudnya bila ia telah berbuat kejahatan maka ia menyesal telah melakukan perbuatan tersebut, dan bila ia berbuat kebaikan maka ia juga menyesal kenapa tidak berbuat lebih banyak (Departemen Agama RI, 1978; Surin, 1978). Dimensi jiwa ini dinamakan oleh para filosof Islam sebagai „aql atau akal (Ahmad, 1992; Mujib, 1999).Al-nafs laammaratun bi al-su secara harfiah berarti jiwa yang memerintah kepada kejahatan, yaitu aspek jiwa yang menggerakkan manusia untuk berbuat jahat dan selalu mengejar kenikmatan.


      Menurut para kaum sufi, dimensi jiwa ini dinamakan sebagai hawa atau nafsu (Sudewo, 1968; Ahmad, 1992; dan Mujib, 1999). Ahmad (1992) menyebutkan, meskipun unsur rohani manusia yang diistilah-kan dengan nafs disebut dengan tiga buah istilah yang berbeda-berbeda sehingga seolah-olah ketiganya berdiri sendiri-sendiri, namun hakikat ketiganya merupakan satu kesatuan. Ketiga buah istilah tersebut menggambarkan bahwa secara garis besar terdapat tiga buah fungsi dan sifat yang dimainkan oleh unsur rohani manusia.

 Senada dengan pendapat Ahmad yang menyimpulkan bahwa unsur rohani manusia hakikatnya satu, Arifin menyatakan:
    Dinamai ruh (jiwa), atau nafs (nyawa) dalam fungsinya menghidupkan, me-numbuhkan dan memperkembangbiakkan. Dinamai akal dalam fungsinya memikir (menyelidiki), mencari sebab akibat, mengingat dan menghayal. Dinamai hati atau kalbu dalam fungsinya merasa .… dinamai nafsu dalam fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan. (Arifin, 1994: 37)


                   Pendapat Ahmad dan Arifin yang menyimpulkan bahwa unsur rohani manusia hakikatnya satu, diperkuat pula oleh pendapat Amjad sebagai berikut: “..… can be concluded that ruh is seen as a unity in all experience which is manifested in different ways in the human self” (Amjad, 1992: 44). Dari pendapat beberapa ulama dan sarjana muslim di atas, dapat diambil simpulan bahwa meskipun Alquran menggunakan istilah yang berbeda-beda dalam menggambarkan unsur rohani manusia, yaitu ruh dan nafs, namun unsur-unsur rohani tersebut hakikatnya satu, disebut dengan istilah yang berbeda adalah untuk membe-dakan sifat-sifat rohani manusia. Keberadaan unsur rohani tersebut menyebabkan ma-nusia dapat hidup dan bergerak, berpikir, merasa dan menyadari keberadaan dirinya, bahkan menyadari akan keberadaan sesuatu yang menciptakan dirinya, yaitu Tuhan.

Qalb


         Menurut Ahmad (1992) dan Mujib (1999), qalb adalah istilah dari al-nafs al-mutmainnah yang digunakan di dalam Alquran untuk menggambarkan salah satu unsur potensi rohani yang dimiliki oleh manusia. Istilah qalb dapat dijumpai antara lain di dalam Alquran surah al-Hajj ayat 46 sebagai berikut:
اف هى ي س يش أ فٗ الاسض ٌٕك ف ن ىٓ ق ه ةٕ ي ع ق هٌٕ ث بٓ أ اراٌ ي س عًٌٕ ث  بٓ ف ب َ بٓ لا دعًٗ الاث صبس نٔ كٍ ر عًٗ ان ق ه ةٕ ان زي فٗ ان صذ سٔ
Artinya: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada."


               Di samping Alquran surah al-Hajj ayat 46 di atas dapat pula dijumpai pada Hadis Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1979: 19) sebagai berikut:

اٌ فٗ ان ج سذ يضغخ ارا ص هذذ ص هخ ان ج سذ ك هّ أرا ف سذد ف سذ ان ج سذ ك هّ ا لا ئْ
ان ق هت
Artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik pula semua tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusak pula semua tubuhnya, ingatlah! itulah yang dinamakan hati/qalb.”


                Berdasarkan keterangan Alquran surah al-Hajj ayat 46 dan Hadis Rasu-lullah saw tersebut di atas, dapat diambil pemahaman bahwa qalb mempunyai arti fisik dan arti metafisik. Al-Ghazali (1984) dan Noersyam (1984) menyatakan, pengertian qalb menurut arti fisik adalah segumpal daging berbentuk lonjong yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri yang terus menerus berdetak selama manusia
masih hidup.



      Qalb dalam pengertian fisik ini berfungsi untuk mengatur jalannya peredaran darah ke dalam seluruh tubuh. Qalb seperti ini terdapat pada manusia dan juga pada binatang. Adapun pengertian qalb secara metafisik, menurut Bastaman (1997), menunjuk kepada hati nurani atau suara hati. Memahami fungsi qalb dalam arti fisik sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Ghazali dan Noersyam di atas, dapat diambil simpulan bahwa yang dimaksud qalb tersebut adalah organ tubuh yang disebut jantung (heart) dan bukan menunjuk kepada organ tubuh yang disebut hati (lever) .Haq (1992) menyatakan bahwa qalb dalam arti fisik (jantung) merupakan titik tempat interaksi antara tubuh dengan qalb dalam arti metafisik (hati nurani).


   Interaksi tersebut secara psikologis dapat dirasakan, ketika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan normal maka qalb (jantung) berdetak secara teratur, namun ketika kondisi psikologis seseorang sangat senang atau terlalu cemas maka detak qalb (jantung) menjadi cepat. Pembahasan tentang qalb dalam tulisan selanjutnya lebih mengarah kepada istilah qalb dalam pengertian metafisik, yaitu hati nurani atau suara hati.



       Kata Qalb ditransfer kedalam bahasa Indonesia menjadi kalbu yang berarti hati nurani. Kata qalb secara harfiah berarti berubah-rubah atau berbolak-balik, disebut demikian karena ia berpotensi untuk berbolak-balik, umpamanya dari perasaan senang menjadi susah, cinta menjadi benci, dari menerima menjadi menolak, dan sebagainya (Shihab, 1997). Qalb mempunyai nama-nama lain sesuai dengan aktivitasnya (Umary, 1989), ia dinamakan pula sebagai dhomir karena sifatnya yang tersembunyi, dinama-kan fuad karena merupakan tumpuan tanggung jawab manusia, dan dinamakan siir karena bertempat pada tempat yang rahasia dan sebagai muara bagi rahasia manusia.


    Hati nurani tidak akan mendustakan apa yang dilihatnya, ia selalu cenderung pada kebenaran. Pernyataan ini didasarkan atas firman Allah swt dalam surah an-Najm ayat 11 sebagai berikut:
يب ك زة ان فؤاد يب ٖ س
Artinya: “Hati nurani tidak mendustakan apa yang dilihatnya


        Menurut Zamakhsyariy (Mujib, 1999), hati nurani diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia yaitu baik dan suci, dan berkecenderungan menerima kebenaran dari Tuhannya. Jika hati nurani berfungsi secara normal, maka kehidupan manusia menjadi sesuai dengan fitrah aslinya, yaitu baik dan suci, dan dengan demikian manu-sia akan beriman kepada Allah swt. Iman adalah masalah gaib yang tidak dapat dijangkau oleh dunia nyata atau pengalaman empiris semata, iman hanya dapat dijangkau dengan dunia rasa. Dunia rasa hanya dapat dijangkau melalui hati nurani yang terdapat dalam dada manusia, bukan dengan rasio atau otak yang terdapat di kepala manusia karena rasio atau otak manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang gaib, keterangan ini dapat dilihat di dalam Alquran surah al-Hujurat ayat 14:
ق بن ذ الاع شة آي بُ . ق م ن ى ر ؤي إُ نٔ كٍ ن إقٕ ا س ه بًُ نٔ  بً ي ذخم الاي بًٌ ف ي ق ه ثٕ كى
إٌٔ ر ط ي ع إ الله سٔ س نّٕ لا ي ه ز كى يٍ ع بًن كى ش ي ئب اٌ الله غ ف سٕ سد يى
Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah „kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu”. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


       Hati nurani merupakan unsur rohani manusia yang sangat penting dan dipandang sebagai inti kemanusiaan yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan binatang. Jika manusia tidak dapat menggunakan hati nuraninya maka dia tidak ada bedanya dengan binatang, bahkan bisa lebih sesat dari binatang sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran surah al-Araf ayat 179.


... ن ىٓ ق ه ةٕ لا ي ف قٌٕٓ ث بٓ نٔ ىٓ اع يٍ لا ي ج ج صشٌٔ ث بٓ نٔ ىٓ اراٌ لا ي س عًٌٕ ث بٓ
ا نٔ ئك ك بلا عَبو ث م ىْ ا ضم ا نٔ ئك ىْ ان غبف هٌٕ
Artinya: ... mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannnya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi.



          Mereka itulah orang-orang yang lalai. Hati nurani dapat dikategorikan sebagai intuisi atau pandangan yang dalam yang mampu membawa manusia kepada kebenaran, dan sebagai sarana untuk mengenal kebenaran ketika penginderaan manusia tidak mampu memainkan perannya (Iqbal, 1981). Senada dengan Iqbal, Al-Ghazali (1984), Noersyam (1984), dan Raharjo (1987) menyatakan bahwa hati nurani manusia dapat menangkap rasa, mengetahui dan mengenal sesuatu, serta memperoleh ilmu mukasyafah, yaitu ilmu yang diperoleh melalui intuisi atau ilham, oleh karena itu, ketika memutuskan sesuatu (membentuk pendapat), hati nurani langsung menetapkannya tanpa proses panjang seolah-olah keputusan itu dilhamkan kepadanya.


             Memahami fungsi qalb seperti yang diuraikan di atas, istilah qalb dalam pengertian metafisik (hati nurani) nampaknya mirip dengan istilah conscience yang digunakan dalam istilah psikologi, yaitu sistem nilai moral seseorang, atau kesadaran akan benar dan salah dalam tingkah laku (Chaplin, 1997), atau dalam istilah Psikoanalisa dinamakan superego, yaitu kumpulan moral nilai etis yang diintroyek-sikan, yang telah diperoleh seseorang dari kedua orangtuanya. Tetapi berbeda dengan conscience dan superego, qalb di samping mengandung sistem nilai moral seseorang juga mengandung sistem nilai spiritual sehingga seseorang mampu merasakan keberadaan Tuhan, beriman dan dapat menerima kebenaran dari-Nya.
Aql

        Secara etimologi „aql berarti mengikat/al-ribath, menahan/al-imsak, mela-rang/al-nahy, dan mencegah/manu (Rasyidi & Cawidu, 1984). Berdasarkan mak-na bahasa ini, Mujib (1999) berpendapat bahwa yang disebut orang yang berakal (al-„aqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat dorongan-dorongan nafsunya, jika nafsunya terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi sehingga manu-sia dapat menghindari perbuatan buruk atau jahat.
                                                                                                                               
    Aql, ditransfer kedalam bahasa Indonesia menjadi akal dengan arti yang umumyaitu pikiran. Akal adalah subtansi yang bisa berpikir, dengan kata lain, ber-pikir adalah cara kerja dari akal, sehingga dapat dikatakan bahwa akal identik dengan pikiran, atau ratio dalam bahasa Latin, atau budi dalam bahasa Sansekerta, atau reason dalam bahasa Inggris. Mengutip pendapat al-Husain, Mujib (1999) menyatakan bahwa akal mem-punyai dua makna, yaitu: (1) akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala. Akal ini yang biasanya disebut dengan otak (al-dimagh), (2) akal ruhani, yaitu suatu kemampuan jiwa yang dipersiapkan dan diberi kemampuan untuk mem-peroleh pengetahuan (al-marifah) dan kognisi (al-mudrikat).

Al-Ghazali (sebagaimana yang dikutip Basil, tanpa tahun) menyebutkan beberapa aktivitas akal, yaitu al-nazhar (melihat), al-tadabbur (memperhatikan), al-taammul (merenungkan), al-itibar (menginterpretasikan), al-tafkir (memikirkan) dan al-tadakkur (mengingat). Apa yang dinyatakan oleh al-Ghazali mengenai aktivitas akal tersebut, dalam psikologi dikenal dengan istilah cognition (kognisi), yaitu sebuah konsep umum yang mencakup semua pengenalan, termasuk di dalamnya ialah menga-mati, melihat, memperhatikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, mem-pertimbangkan, berpikir, menduga dan menilai (Chaplin, 1997).

Jika kerja qalb (hati nurani) dalam memutuskan sesuatu tanpa proses panjang seolah-olah keputusan itu dilhamkan kepadanya, dengan memperhatikan beberapa aktivitas akal di atas, maka dapat dipahami bahwa kerja akal dalam memutuskan sesuatu melalui jalan yang berliku-liku lewat proses yang disebut berfikir. Dalam Islam, akal diakui sebagai salah satu sarana yang sangat penting bagi manusia, bahkan diakui merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Alquran dan Hadis yang diistilahkan dengan ijtihad.


Meskipun akal mempunyai kedudukan dan posisi yang sangat penting, namun akal bukan merupakan faktor utama yang dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang paling baik dan mulia, sebab akal tidak dapat menentukan dan menetapkan kebenaran tanpa adanya bimbingan syariat (hukum agama) dan iman yang bersumber dari hati (qalb). Akal mampu untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada, namun akal tidak mampu mengantar manusia untuk merasa dekat dengan Tuhannya, yang mampu mendekati Tuhan adalah rasa yang menggunakan qalb sebagai sarananya. Di sampig itu, kebenaran yang diperoleh dari akal bersifat nisbi atau relatif sebagaimana yang diakui oleh para ilmuwan dan filosof.
Hawa Secara literlik hawa berarti menuruti kehendak. Hawa sering pula diistilahkan dengan syahwat yang berarti nafsu, selera, atau keinginan (Munawwir, 1984: 801). Dalam bahasa Indonesia, hawa/syahwat diistilahkan dengan nafsu atau hawa nafsu. Nafsu merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia, dengan nafsu manusia bisa menikmati segala keindahan dan kenikmatan yang terdapat di alam ini, nafsu mendorong akal manusia untuk memikirkan cara-cara hidup yang lebih baik, dan nafsu pula yang mendorong manusia untuk hidup berkeluarga dan berketurunan. Dalam surah Ali Imran ayat 14 Allah swt berfirman:

صيٍ ن ه بُس دت ان ش إٓد يٍ ان سُآء ٍيُجنأ أن ق بُط يش ان قً ُطشح يٍ ان ز تْ أن ف ضخ
أن خ يم ان سً يٕخ ألا عَبو أن ذشس . رن ك ي زبع ان ذ يبح ان ذ يَب ألله ع ذُِ د سٍ ان  ًبة



Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat yang baik.


    Berdasarkan surah Ali Imran ayat 14 di atas, Al-Falimbani (1995) dan Muhammad (t.t.) membagi nafsu menjadi dua macam, yaitu nafsu seksual (syahwatul faraj) dan nafsu perut (syahwatul bathni). Nafsu seksual mendorong dan menyebabkan umat manusia berkembang dan berketurunan, sedang nafsu perut mendorong akal manusia untuk memikirkan cara-cara hidupnya yang lebih layak.
















                                                         BAB III
  PENUTUP

           
3.1 KESIMPULAN


Berdasarkan berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik. Hal yang menjadikan manusia sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan. Selain itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.


3.2 SARAN


                Sebagai manusia yang telah mengetahui perannya, alangkah baiknya jika kita melaksanakan peran kita, tugas kita sebagai seorang khalifah di bumi ini dengan baik. Manusia telah diberi kelebihan oleh Allah SWT, oleh karena itu dengan kelebihan tersebut kita akan mampu menjalankan tugas kita sebagai seorang khalifah dengan tetap berusaha untuk mendapatkan ridho Allah SWT.










DAFTAR PUSTAKA


Hhtp//www.hakikat manusia dalam pandangan islam.com











Tidak ada komentar: