![]() |
DI
S
U
S
U
N
OLEH:
KELOMPOK 15
ANGGOTA :
1.DEMAI
JAFNIYANTI (1102020060)
2.SAFRIDA (1102020076)
3.MAHFUZH (1002020149)
DOSPEN : MUKHLISUDDIN, Mp.d
![]() |
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
ALMUSLIM MATANG GLUMPANGDUA-BIEREUN-ACEH
2012
DAFTAR
ISI
HAKIKAT
MANUSAI DALAM PANDANGAN ISLAM
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................ ii
BAB
I: PENDAHULUAN..................................................................................
1.1
LATAR BEL```AKANG....................................................................
1.2
RUMUSAN MASALAH...................................................................
1.3
TUJUAN
PENULISAN.....................................................................
BAB
II:PEMBAHASAN ....................................................................................
2.1 PENGERTIAN...................................................................................
2.2 KELEBIHAN MANUSIA DARI MAKHLUK LAIN....................
2.3FUNGSI DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA DALAM ISLAM.
2.4 HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDAGAN ISLAM................
BAB
III: PENUTUP............................................................................................
3.1 KESIMPULAN .................................................................................
3.2 SARAN...............................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA...........................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk
ciptaan Allah SWT dan juga makhluk sosial. Dalam pandangan Islam, sebagai
makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan
kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal
dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun
manusia dalam menjalankan perannya.
Dalam perjalanan
hidupnya peran manusia semakin terlupakan. Padahal dengan semua kelebihan yang
dimilikinya manusia sudah selayaknya menjalankan peran dan tugasnya. Oleh
karena itu, hakikat manusia yang sebenar-benarnya harus diresapi dengan baik
agar manusia itu sendiri kembali pada tujuan asal mulanya dia diciptakan.
1.1
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di
atas timbul beberapa masalah, diantaranya :
1.
Apa kelebihan manusia dari makhluk lainya?
2.
Apa fungsi dan tanggung jawab manusia dalam islam?
3. Bagaimana hakikat masusia menurut pandangan Islam !
1.2
TUJUAN
PENULISAN
Berdasarkan
rumusan masalah, kami menentukan tujuan dalam penulisan makalah ini, adalah:
Menjelaskan hakikat manusia menurut pandangan
islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN
Manusia adalah makhluk
ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah), dengan
menggunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati
gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak .
Di dalam Al-Quran,
manusia disebut antara lain dengan bani Adam (Q.S. Al-Isra‟:70),
basyar (Q.S. Al-Kahfi:10), Al-Insan (Al-Insan:1) , An-Nas (114):1). Berbagai
rumusan tentang manusia pun telah diberikan orang. Salah satu diantaranya,
berdasarkan studi isi Al-Quran dan Al-Hadist, berbunyi sebagai berikut:
Al-Insan (manusia) adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk
beriman (kepada Allah), dengan menggunakan akalnya mampu memahami dan
mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala alam, bertanggung jawab atas
segala perbuatannya dan berakhlak (N.A Rasyid , 1983:19).
2.2 KELIBIHAN MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK LAINNYA
Manusia
dibandingkan makhluk lain mempunyai berbagai ciri utama, yaitu:
Makhluk yang paling unik , dijadikan dalam
bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna. Firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin:4)
Keunikan
manusia dapat terlihat pada bentuk struktur tubuhnya, gejala-gejala yang
ditimbulkan jiwanya, mekanisme yang terjadi pada setiap organ tubuhnya, proses
pertumbuhannya melalui tahapan tertentu, dan sebagainya. Hubungan timbal balik
antara manusia dengan lingkungan hidupnya, ketergantungannya pada sesuatu,
menunjukkan adanya kekuasaan yang berada diluar manusia itu sendiri. Manusia
sebagai makhluk ciptaan Allah karena itu sepantasnya menyadari kelemahannya.
Kelemahan manusia berupa sifat yang melekat ada dirinya disebutkan Allah dalam
Al-Quran, diantaranya adalah:
a.
Melampaui batas (QS. Yunus : 12)
b. Zalim
dan mengingkari karunia Allah (QS. Ibrahim : 34)
c.
Tergesa-gesa (QS. Al-Isra‟: 11)
d. Suka
membantah (QS. Al-Kahfi : 54)
e.
Berkeluh kesah dan kikir (QS. Al-Ma‟arij:
19-21)
f. Ingkar dan tidak berterima kasih (QS.
Al-Adiyat : ^)
Namun untuk
kepentingan dirinya manusia ia harus senantiasa berhubungan dengan penciptanya,
dengan sesama manusia, dengan dirinya sendiri, dan dengan alam sekitarnya.
Manusia memiliki potensi beriman kepada Allah. Sebab sebelum ruh Allah
dipertemukan dengan jasad di rahim ibunya, ruh yang di alam ghaib itu ditanyai
Allah, sebagaimana dalam Al-Quran:
“Apakah kalian
mengakui Aku sebagai Tuhan kalian? (para ruh itu menjawab)” ya kami akui Engkau
adalah Tuhan kami”. (QS. Al-„Araf :172)
Dengan pengakuan
tersebut sesungguhnya manusia sejak awal telah maengakui Tuhan, telah
ber-Tuhan, berke-Tuhanan. Pengakuan dan penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan tuh
yang ditiupkan ke dalam rahim wanita yang sedang mengandung manusia itu berarti
bahwa manusia mengakui adanya kekuasaan Tuhan, termasuk kekuasaan Tuhan
menciptakan agama untuk pedoman hidup manusia di dunia ini. Ini bermakna pula
bahwa secara potensial manusia percaya atau beriman kepada ajaran agama yang diciptakan
Allah yang Maha Kuasa.
Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi
kepada-Nya dalam Al-Quran surat az-Zariyat:
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk
mengabdi kepada-Ku.” (BS. Az-Zariyat: 56)
Mengabdi kepada
Allah dapat dilakukan manusia melalui dua jalur, jalur khusus dan jalur umum.
Pengabdian melalui jalur khusus diaksanakan dengan melakukan ibadah khusus
yaitu segala upacara pengabdia langsung kepada Allah yang syarat-syaratnya, dan
cara-caranya telah ditentukan oleh Allah sendiri sedang rinciannya dijelaskan
oleh Rasul-Nya, seperti ibadah shalat, zakat, shaum, dan haji. Pengabdian
melalui jalur umum dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan yang disebut amal
saleh yaitu segala perbuatan positif yang bermanfaat bagi diri sendiri dan
masyarakat, dilandasi dengan niat ikhlas dan bertujuan untuk mencari keridaan
Allah.
Manusia dilengkapi dengan akal perasaan
dan kemauan atau kehendak.
Dengan akal dan
kehendaknya manusia akana tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim. Tetapi
dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan
tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya, menajdi kafir.
Karena itu di dalam Al-Quran ditegaskan oleh Allah:
“Dan katakana bahwa kebenaran itu
datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang mau beriman hendaklah ia beriman, dan
barangsiapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Dalam surat Al-Insan juga dijelaskan:
“Sesungguhnya kami telah
menunjukinya jalan yang lurus (kepada manusia), ada manusia yang syukur, ada
pula manusia yang kafir”. (QS. Al-Insan: 3)
Allah telah menunjukkan jalan kepada
manusa dan manusia dapat menjalani jalan itu dan dapat pula tidak mengikutinya.
Memang dengan kemampuanya atau kehendaknya yang bebas manusia dapat memilih
jalan yang akan ditempuhnya. Namun dengan pilihannya itu manusia kelak akan
dimintai pertanggungjawabannya di akhirat, yaitu pada hari perhitungan mengenai
segala amal perbuatan manusia ketika masih di dunia. Secara individual manusia
bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam
Al-Quran:
“Setiap orang terikat (bertanggung
jawab atas apa yg dilakuannya.” (QS. St-Thur: 21)
--Manusia memiliki akhlaq.
Berakhlaq adalah ciri
utama mausia dibandngkan makhluk lain. Artinya manusia adalah makhluk yang
diberikan Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk. Dalam
Islam kedudukan akhlak sangat penting, ia menjadi komponen ketiga dalam Islam.
Kedudukan ini dapat dilihat di dalam sunnah Nabi.
yang mengatakan bahwa beliau diutus hanyalah
untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.
Suri tauladan Nabi yang dlakukan semasa
hidupnya seharusnya menjadi contoh bagi umat manusia terutama manusia yang
beriman. Selain dari keteladanan Rasulullah, banyak butir-butir tuntunan menuju
akhlak mulia itu terdapat di dalam Al-Quran dan AlHadits. Butir0butir ajaran
ini berlaku abadi, universal, seanjang masa dan dimana saja.
2.2 FUNGSI DAN TANGGUNG
JAWAB MANUSIA DALAM ISLAM
Allah
SWT dengan kehendak kebijaksanaanNya telah mencipta makhluk- makhluk yang di
tempatkan di alam penciptaanNya. Manusia di antara makhluk Allah dan menjadi
hamba Allah SWT. Sebagai hamba Allah tanggungjawab manusia adalah amat luas di
dalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang ditentukan kepadanya.
Tanggungjawab
manusia secara umum digambarkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis berikut.
Dari Ibnu Umar RA katanya; “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda yang
bermaksud:
“Semua orang dari engkau sekalian adalah
pengembaladandipertanggungjawabkan terhadap
apa yang digembalainya. Seorang laki-laki adalah pengembala dalam keluarganya
dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Seorang isteri adalah pengembala di
rumah suaminya dan akan ditanya tentang pengembalaannya.Seorang khadam juga
pengembala dalam harta tuannya dan akan ditanya tentang pengembalaannya. Maka
semua orang dari kamu sekalian adalah pengembala dan akan ditanya tentang
pengembalaannya.”
(Muttafaq „alaih)
Allah menciptakan manusia ada
tujuan-tujuannya yang tertentu. Manusia dicipta untuk dikembalikan semula
kepada Allah dan setiap manusia akan ditanya atas setiap usaha dan amal yang
dilakukan selama ia hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan
hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan ke
atas dirinya perlu dilaksanakan.
2.3 HAKIKAT
MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM
Dari sudut pandang psikologi, pandangan
tentang hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu
sifat-sifat khas (karakteristik) segenap umat manusia (Chaplin, 1997: 231).
Hakekat manusia yang dimaksud dalam kajian ini ialah sesuatu yang esensial dan
merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia
berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya.
Para pemikir Islam seperti Al-Farabi,
Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd (Muhaimin & Mujib, 1993) menyatakan bahwa
manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur, yaitu unsur yang bersifat
materi (jasmani) dan unsur yang bersifat immateri (rohani). Pernyataan bahwa
manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur mengan-dung makna bahwa
unsur-unsur tersebut merupakan satu totalitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan,
atau dengan kata lain tidak bisa dikatakan sebagai manusia jika salah satu
diantara dua unsur tersebut tidak ada. Namun pembahasan ini hanya difokuskan
pada unsur immateri (rohani) saja. Istilah yang sering disebut dalam
Alquran untuk
menggambarkan unsur manu-sia yang bersifat rohani adalah ruh dan nafs.
Ruh Dalam surah al-Hijr ayat 28-29 Allah
berfirman :
إٔر ق
بل سث ك ن ه
هً ئ كخ ا يَ
خبن ق ث ششا يٍ
ص ه صبل يٍ
د ئً ي سٌُٕ . ف برا س
يٕ زّ
فَٔخذ ف يّ يٍ
س دٔي ف ق
ع إنّ سبجذيٍ
Artinya: Dan (ingatlah) ketika
Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah
meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud”
Sebagaimana
yang digambarkan dalam ayat di atas, ruh adalah unsur terakhir yang dimasukkan
ke dalam tubuh manusia, dengan demikian dapat diambil pemaha-man bahwa ruh
adalah unsur yang sangat penting karena merupakan unsur terakhir yang
menyempurnakan proses penciptaan manusia. Ruh juga dikatakan sebagai bagian
unsur yang mulia, hal ini tersirat dari perintah Allah.
kepada para malaikat (termasuk pula iblis) untuk sujud kepada manusia
sebagai tanda penghormatan setelah dimasuk-kannya unsur ruh.
Apakah ruh itu?. Pertanyaan ini pernah
diajukan kepada Rasulullah saw sebagaimana yang tergambar dalam surah al-Isra‟ ayat 85 sebagai berikut:
ئ س
ئ ه كَٕ عٍ
ان ش حٔ . ق م ان ش
حٔ يٍ ايش سث ي
ئب ا رٔ ي
زى يٍ ان ع هى
ا لا ق ه
يلا
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan
Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
Ayat di atas menyiratkan bahwa
pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatas sehingga tidak mungkin dapat
mengetahui hakikat ruh secara detail. Sekalipun ayat di atas menyatakan bahwa
pengetahuan manusia tidak akan mencapai pemahaman yang rinci tentang hakikat
ruh, tetapi tidak satupun terdapat ayat Alquran yang menghalangi atau melarang
para ulama atau cendikiawan muslim untuk berusaha memahami hakikatnya
(Syaltout, 1972). Pintu untuk menyelidiki tentang hakikat ruh masih terbuka
dengan selebar-lebarnya (Surin, 1978). Mempelajari proses penciptaan manusia
sebagaimana yang digambarkan da-lam Alquran, paling tidak akan memberikan
sedikit pemahaman tentang sifat-sifat ruh sebagaimana yang dinyatakan oleh
Ansari (1992: 3) sebagai berikut: Thus obvious that a direct and detail
understanding of the nature of the ruh is not available. However, if we look at
other relevant sections of the Qur‟an
which describe the process of creation, we might be able to obtain at least some
understanding of its nature.
Dalam memahami sifat-sifat ruh, ada
beberapa ulama dan para sarjana muslim yang mencoba memahaminya dengan berpijak
pada disiplin ilmunya masing-masing, mereka di antaranya sebagai berikut:
Al-Qayyim (1991), dan Al-Razy
(Ash-Shiddieqy, 1969 dan Hadi, 1981), ber-pendapat bahwa ruh adalah suatu jisim
(benda) yang sifatnya sangat halus dan tidak dapat diraba. Ruh merupakan jisim
nurani yang tinggi dan ringan, hidup dan selalu bergerak menembus dan menjalar
ke dalam setiap anggota tubuh bagaikan menjalarnya air dalam bunga mawar. Jisim
tersebut berjalan dan memberi bekas-bekas seperti gerak, merasa, dan
berkehendak. Jika anggota tubuh tersebut sakit.
Dan rusak, serta tidak mampu lagi menerima
bekas-bekas itu, maka ruh akan bercerai dengan tubuh dan pergi ke alam arwah.
Al-Ghazali (1989) membagi ruh dalam dua
pengertian. Pertama, ruh yang bersifat jasmani yang merupakan bagian dari tubuh
manusia, yaitu zat yang amat halus yang bersumber dari relung hati (jantung),
yang menjadi pusat semua urat (pembuluh darah), yang mampu menjadikan manusia
hidup dan bergerak, serta merasakan ber-bagai rasa. Ruh ini dapat diibaratkan
sebuah lampu yang mampu menerangi setiap sudut ruangan (organ tubuh). Ruh
sering pula diistilahkan dengan nafs (nyawa). Kedua, ruh yang bersifat rohani
yang merupakan bagian dari rohani manusia yang sifatnya halus dan gaib. Ruh ini
memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengenal diri-nya sendiri, mengenal
Tuhannya, dan memperoleh serta menguasai ilmu yang bermacam-macam. Ruh pula
yang menyebabkan manusia berperikemanusiaan dan berakhlak sehingga
memjadikannya berbeda dengan binatang.
Syaltout (1972) berpendapat bahwa ruh
adalah suatu kekuatan yang dapat menyebabkan adanya kehidupan pada makhluk
seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruh pada diri manusia disamping
dapat memberikan kehidupan juga mem-berikan kemampuan kepada manusia untuk
merasa dan berpikir. Hakekat ruh sulit ditangkap tetapi keberadaannya dapat
dirasakan.
Ansari (1992) menyatakan, salah satu
kapasitas khusus yang hanya dimiliki oleh manusia -- tidak dimiliki oleh
makhluk lain -- disebabkan karena adanya ruh adalah kemampuannya untuk
memperoleh pengetahuan yang luas. Pernyataan Ansari tersebut didasarkan pada
Alquran surah al-Baqarah ayat 31 sebagai berikut:
عٔ
هى ادو
الا س بًء ك ه
بٓ ...
Artinya:
“Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”
Adam diajarkan oleh Allah swt berbagai
nama-nama benda setelah unsur ruh ditiupkan kedalam tubuhnya, hal ini
menyiratkan bahwa keberadaan unsur ruh menyebabkan manusia mempunyai kemampuan
untuk menerima dan memperoleh pengetahuan yang luas.
Pulungan (1984) menyatakan bahwa ruh adalah
sumber kemanusiaan. Manusia merasa senang, cinta, benci, marah, bahagia,
gembira, bermoral, berakhlak, mem-punyai rasa malu dan beradab, semuanya adalah
akibat dari adanya ruh yang ditiupkan Allah pada tubuh manusia.
Menurut Arifin (1994), keberadaan ruh
pada diri manusia dapat menyebabkan tumbuh dan berkembangnya daging, tulang,
darah, kulit, dan bulu, ruh pula yang menyebabkan tubuh manusia dapat bergerak,
berketurunan, dan berkembangbiak. Di sampimg itu ruh pula yang membuat manusia
dapat melihat, mendengar, merasa, berpikir, berkesadaran, dan berpengertian.
Di samping ruh, istilah lain yang
dijumpai dalam Alquran untuk menamakan unsur rohani manusia ialah nafs. Ruh dan
nafs adalah dua buah istilah yang pada hakikatnya sama.
·
Nafs
Ruh dan nafs hakikatnya sama, diberi
istilah yang berbeda adalah untuk membedakan sifat dan fungsinya masing-masing.
Menurut Amjad (1992), istilah ruh hanya digunakan untuk menunjukkan unsur
rohani manusia pada tingkatan yang lebih tinggi dari nafs, ruh dipandang
sebagai dimensi khas insani yang merupakan sarana gaib untuk menerima petunjuk
dan bimbingan Tuhan, serta mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan, sedangkan
istilah nafs digunakan untuk menggambarkan unsur rohani manusia yang mengandung
kualitas-kualitas insaniyah atau kemanusiaan.
Dalam Alquran ditemukan tiga buah
istilah yang dikaitkan dengan kata nafs, yaitu al-nafs al-mutma‟innah seperti yang terdapat dalam surah al-Fajr ayat
27, al-nafs al-lawwamah seperti yang terdapat dalam surah al-Qiyaamah ayat 2,
dan al-nafs laammaratun bi al-su‟
seperti yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 53. Ketiga buah istilah yang
dikaitkan dengan kata nafs tersebut menyiratkan adanya tiga buah pembagian
kualitas unsur rohani yang terdapat pada manusia.
Al-nafs al-mutma‟innah secara etimologi berarti jiwa yang tenang,
dinamakan jiwa yang tenang karena dimensi jiwa ini selalu berusaha untuk
meninggalkan sifat-sifat tercela dan menumbuhkan sifat-sifat yang baik sehingga
memperoleh ketenangan. Dimensi jiwa ini secara umum dinamakan qalb atau hati
(Ahmad, 1992; Mujib, 1999).
Al-nafs al-lawwamah secara literlik berarti
jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri, maksudnya bila ia telah berbuat
kejahatan maka ia menyesal telah melakukan perbuatan tersebut, dan bila ia
berbuat kebaikan maka ia juga menyesal kenapa tidak berbuat lebih banyak
(Departemen Agama RI, 1978; Surin, 1978). Dimensi jiwa ini dinamakan oleh para
filosof Islam sebagai „aql atau akal (Ahmad, 1992; Mujib, 1999).Al-nafs
laammaratun bi al-su‟
secara harfiah berarti jiwa yang memerintah kepada kejahatan, yaitu aspek jiwa
yang menggerakkan manusia untuk berbuat jahat dan selalu mengejar kenikmatan.
Menurut para kaum sufi, dimensi jiwa ini
dinamakan sebagai hawa atau nafsu (Sudewo, 1968; Ahmad, 1992; dan Mujib, 1999).
Ahmad (1992) menyebutkan, meskipun unsur rohani manusia yang diistilah-kan
dengan nafs disebut dengan tiga buah istilah yang berbeda-berbeda sehingga
seolah-olah ketiganya berdiri sendiri-sendiri, namun hakikat ketiganya
merupakan satu kesatuan. Ketiga buah istilah tersebut menggambarkan bahwa
secara garis besar terdapat tiga buah fungsi dan sifat yang dimainkan oleh
unsur rohani manusia.
Senada dengan pendapat Ahmad yang menyimpulkan
bahwa unsur rohani manusia hakikatnya satu, Arifin menyatakan:
Dinamai ruh (jiwa), atau nafs (nyawa) dalam
fungsinya menghidupkan, me-numbuhkan dan memperkembangbiakkan. Dinamai akal
dalam fungsinya memikir (menyelidiki), mencari sebab akibat, mengingat dan
menghayal. Dinamai hati atau kalbu dalam fungsinya merasa .… dinamai nafsu
dalam fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan. (Arifin, 1994: 37)
Pendapat Ahmad dan Arifin
yang menyimpulkan bahwa unsur rohani manusia hakikatnya satu, diperkuat pula
oleh pendapat Amjad sebagai berikut: “..… can be concluded that ruh is seen as
a unity in all experience which is manifested in different ways in the human
self” (Amjad, 1992: 44). Dari pendapat beberapa ulama dan sarjana muslim di
atas, dapat diambil simpulan bahwa meskipun Alquran menggunakan istilah yang
berbeda-beda dalam menggambarkan unsur rohani manusia, yaitu ruh dan nafs,
namun unsur-unsur rohani tersebut hakikatnya satu, disebut dengan istilah yang
berbeda adalah untuk membe-dakan sifat-sifat rohani manusia. Keberadaan unsur
rohani tersebut menyebabkan ma-nusia dapat hidup dan bergerak, berpikir, merasa
dan menyadari keberadaan dirinya, bahkan menyadari akan keberadaan sesuatu yang
menciptakan dirinya, yaitu Tuhan.
Qalb
Menurut
Ahmad (1992) dan Mujib (1999), qalb adalah istilah dari al-nafs al-mutma‟innah yang digunakan di dalam Alquran untuk
menggambarkan salah satu unsur potensi rohani yang dimiliki oleh manusia.
Istilah qalb dapat dijumpai antara lain di dalam Alquran surah al-Hajj ayat 46
sebagai berikut:
اف هى
ي س يش أ
فٗ الاسض
ٌٕك ف ن ىٓ ق
ه ةٕ ي ع
ق هٌٕ ث بٓ
أ اراٌ ي س عًٌٕ
ث بٓ ف ب َ
بٓ لا دعًٗ الاث صبس نٔ
كٍ ر عًٗ ان ق ه
ةٕ ان زي فٗ ان صذ سٔ
Artinya: “Maka apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada
di dalam dada."
Di samping Alquran surah al-Hajj
ayat 46 di atas dapat pula dijumpai pada Hadis Rasulullah saw sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1979: 19) sebagai berikut:
اٌ فٗ ان ج سذ
يضغخ ارا ص هذذ ص
هخ ان ج سذ ك
هّ أرا ف سذد ف
سذ ان ج سذ ك
هّ ا لا ئْ
ان ق
هت
Artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh
manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baik pula semua tubuhnya,
dan jika ia rusak maka rusak pula semua tubuhnya, ingatlah! itulah yang
dinamakan hati/qalb.”
Berdasarkan keterangan Alquran
surah al-Hajj ayat 46 dan Hadis Rasu-lullah saw tersebut di atas, dapat diambil
pemahaman bahwa qalb mempunyai arti fisik dan arti metafisik. Al-Ghazali (1984)
dan Noersyam (1984) menyatakan, pengertian qalb menurut arti fisik adalah
segumpal daging berbentuk lonjong yang terletak di dalam rongga dada sebelah
kiri yang terus menerus berdetak selama manusia
masih hidup.
Qalb dalam pengertian fisik ini berfungsi
untuk mengatur jalannya peredaran darah ke dalam seluruh tubuh. Qalb seperti
ini terdapat pada manusia dan juga pada binatang. Adapun pengertian qalb secara
metafisik, menurut Bastaman (1997), menunjuk kepada hati nurani atau suara
hati. Memahami fungsi qalb dalam arti fisik sebagaimana yang digambarkan oleh
Al-Ghazali dan Noersyam di atas, dapat diambil simpulan bahwa yang dimaksud
qalb tersebut adalah organ tubuh yang disebut jantung (heart) dan bukan
menunjuk kepada organ tubuh yang disebut hati (lever) .Haq (1992) menyatakan
bahwa qalb dalam arti fisik (jantung) merupakan titik tempat interaksi antara
tubuh dengan qalb dalam arti metafisik (hati nurani).
Interaksi tersebut secara psikologis dapat
dirasakan, ketika kondisi psikologis seseorang dalam keadaan normal maka qalb
(jantung) berdetak secara teratur, namun ketika kondisi psikologis seseorang
sangat senang atau terlalu cemas maka detak qalb (jantung) menjadi cepat.
Pembahasan tentang qalb dalam tulisan selanjutnya lebih mengarah kepada istilah
qalb dalam pengertian metafisik, yaitu hati nurani atau suara hati.
Kata Qalb ditransfer kedalam bahasa
Indonesia menjadi kalbu yang berarti hati nurani. Kata qalb secara harfiah
berarti berubah-rubah atau berbolak-balik, disebut demikian karena ia
berpotensi untuk berbolak-balik, umpamanya dari perasaan senang menjadi susah,
cinta menjadi benci, dari menerima menjadi menolak, dan sebagainya (Shihab, 1997).
Qalb mempunyai nama-nama lain sesuai dengan aktivitasnya (Umary, 1989), ia
dinamakan pula sebagai dhomir karena sifatnya yang tersembunyi, dinama-kan fu‟ad karena merupakan tumpuan tanggung jawab manusia,
dan dinamakan siir karena bertempat pada tempat yang rahasia dan sebagai muara
bagi rahasia manusia.
Hati nurani tidak akan mendustakan apa yang
dilihatnya, ia selalu cenderung pada kebenaran. Pernyataan ini didasarkan atas
firman Allah swt dalam surah an-Najm ayat 11 sebagai berikut:
يب ك زة ان
فؤاد يب ٖ س
Artinya: “Hati
nurani tidak mendustakan apa yang dilihatnya”
Menurut Zamakhsyariy (Mujib, 1999),
hati nurani diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia yaitu baik dan
suci, dan berkecenderungan menerima kebenaran dari Tuhannya. Jika hati nurani
berfungsi secara normal, maka kehidupan manusia menjadi sesuai dengan fitrah
aslinya, yaitu baik dan suci, dan dengan demikian manu-sia akan beriman kepada
Allah swt. Iman adalah masalah gaib yang tidak dapat dijangkau oleh dunia nyata
atau pengalaman empiris semata, iman hanya dapat dijangkau dengan dunia rasa.
Dunia rasa hanya dapat dijangkau melalui hati nurani yang terdapat dalam dada
manusia, bukan dengan rasio atau otak yang terdapat di kepala manusia karena
rasio atau otak manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang gaib, keterangan
ini dapat dilihat di dalam Alquran surah al-Hujurat ayat 14:
ق بن
ذ الاع شة آي
بُ .
ق م
ن ى ر ؤي
إُ نٔ كٍ ن إقٕ
ا س ه بًُ
نٔ بً ي ذخم الاي
بًٌ ف ي ق ه
ثٕ كى
إٌٔ ر ط ي
ع إ الله سٔ
س نّٕ لا ي
ه ز كى يٍ
ع بًن كى ش
ي ئب اٌ الله
غ ف سٕ سد
يى
Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata:
“Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah „kami telah tunduk‟,
karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada
Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu”. Sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Hati nurani merupakan unsur rohani
manusia yang sangat penting dan dipandang sebagai inti kemanusiaan yang dapat
menjadikan manusia berbeda dengan binatang. Jika manusia tidak dapat
menggunakan hati nuraninya maka dia tidak ada bedanya dengan binatang, bahkan
bisa lebih sesat dari binatang sebagaimana yang dinyatakan dalam Alquran surah
al-A‟raf ayat 179.
... ن ىٓ ق ه
ةٕ لا ي ف قٌٕٓ
ث بٓ نٔ ىٓ
اع يٍ لا ي ج
ج صشٌٔ ث بٓ
نٔ ىٓ اراٌ لا ي
س عًٌٕ ث بٓ
ا نٔ
ئك ك بلا عَبو ث
م ىْ ا ضم
ا نٔ ئك ىْ
ان غبف هٌٕ
Artinya: ...
mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannnya untuk memahami (ayat-ayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan
binatang, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Hati nurani dapat dikategorikan sebagai intuisi atau pandangan yang dalam yang
mampu membawa manusia kepada kebenaran, dan sebagai sarana untuk mengenal
kebenaran ketika penginderaan manusia tidak mampu memainkan perannya (Iqbal,
1981). Senada dengan Iqbal, Al-Ghazali (1984), Noersyam (1984), dan Raharjo
(1987) menyatakan bahwa hati nurani manusia dapat menangkap rasa, mengetahui
dan mengenal sesuatu, serta memperoleh ilmu mukasyafah, yaitu ilmu yang diperoleh
melalui intuisi atau ilham, oleh karena itu, ketika memutuskan sesuatu
(membentuk pendapat), hati nurani langsung menetapkannya tanpa proses panjang
seolah-olah keputusan itu dilhamkan kepadanya.
Memahami fungsi qalb seperti yang
diuraikan di atas, istilah qalb dalam pengertian metafisik (hati nurani)
nampaknya mirip dengan istilah conscience yang digunakan dalam istilah
psikologi, yaitu sistem nilai moral seseorang, atau kesadaran akan benar dan
salah dalam tingkah laku (Chaplin, 1997), atau dalam istilah Psikoanalisa
dinamakan superego, yaitu kumpulan moral nilai etis yang diintroyek-sikan, yang
telah diperoleh seseorang dari kedua orangtuanya. Tetapi berbeda dengan
conscience dan superego, qalb di samping mengandung sistem nilai moral
seseorang juga mengandung sistem nilai spiritual sehingga seseorang mampu
merasakan keberadaan Tuhan, beriman dan dapat menerima kebenaran dari-Nya.
Aql
Secara etimologi „aql berarti
mengikat/al-ribath, menahan/al-imsak, mela-rang/al-nahy, dan mencegah/man‟u (Rasyidi & Cawidu, 1984). Berdasarkan mak-na
bahasa ini, Mujib (1999) berpendapat bahwa yang disebut orang yang berakal
(al-„aqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat dorongan-dorongan
nafsunya, jika nafsunya terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi
sehingga manu-sia dapat menghindari perbuatan buruk atau jahat.
„
Aql, ditransfer kedalam bahasa Indonesia
menjadi akal dengan arti yang umumyaitu pikiran. Akal adalah subtansi yang bisa
berpikir, dengan kata lain, ber-pikir adalah cara kerja dari akal, sehingga
dapat dikatakan bahwa akal identik dengan pikiran, atau ratio dalam bahasa
Latin, atau budi dalam bahasa Sansekerta, atau reason dalam bahasa Inggris.
Mengutip pendapat al-Husain, Mujib (1999) menyatakan bahwa akal mem-punyai dua
makna, yaitu: (1) akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di
kepala. Akal ini yang biasanya disebut dengan otak (al-dimagh), (2) akal
ruhani, yaitu suatu kemampuan jiwa yang dipersiapkan dan diberi kemampuan untuk
mem-peroleh pengetahuan (al-ma‟rifah)
dan kognisi (al-mudrikat).
Al-Ghazali
(sebagaimana yang dikutip Basil, tanpa tahun) menyebutkan beberapa aktivitas
akal, yaitu al-nazhar (melihat), al-tadabbur (memperhatikan), al-ta‟ammul (merenungkan), al-i‟tibar (menginterpretasikan), al-tafkir (memikirkan)
dan al-tadakkur (mengingat). Apa yang dinyatakan oleh al-Ghazali mengenai
aktivitas akal tersebut, dalam psikologi dikenal dengan istilah cognition
(kognisi), yaitu sebuah konsep umum yang mencakup semua pengenalan, termasuk di
dalamnya ialah menga-mati, melihat, memperhatikan, menyangka, membayangkan,
memperkirakan, mem-pertimbangkan, berpikir, menduga dan menilai (Chaplin,
1997).
Jika kerja qalb
(hati nurani) dalam memutuskan sesuatu tanpa proses panjang seolah-olah
keputusan itu dilhamkan kepadanya, dengan memperhatikan beberapa aktivitas akal
di atas, maka dapat dipahami bahwa kerja akal dalam memutuskan sesuatu melalui
jalan yang berliku-liku lewat proses yang disebut berfikir. Dalam Islam, akal
diakui sebagai salah satu sarana yang sangat penting bagi manusia, bahkan
diakui merupakan sumber hukum Islam yang ketiga setelah Alquran dan Hadis yang
diistilahkan dengan ijtihad.
Meskipun
akal mempunyai kedudukan dan posisi yang sangat penting, namun akal bukan merupakan
faktor utama yang dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang paling baik dan
mulia, sebab akal tidak dapat menentukan dan menetapkan kebenaran tanpa adanya
bimbingan syari‟at
(hukum agama) dan iman yang bersumber dari hati (qalb). Akal mampu untuk
mengetahui bahwa Tuhan itu ada, namun akal tidak mampu mengantar manusia untuk
merasa dekat dengan Tuhannya, yang mampu mendekati Tuhan adalah rasa yang
menggunakan qalb sebagai sarananya. Di sampig itu, kebenaran yang diperoleh
dari akal bersifat nisbi atau relatif sebagaimana yang diakui oleh para ilmuwan
dan filosof.
Hawa
Secara literlik hawa berarti menuruti kehendak. Hawa sering pula diistilahkan
dengan syahwat yang berarti nafsu, selera, atau keinginan (Munawwir, 1984:
801). Dalam bahasa Indonesia, hawa/syahwat diistilahkan dengan nafsu atau hawa
nafsu. Nafsu merupakan karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia, dengan
nafsu manusia bisa menikmati segala keindahan dan kenikmatan yang terdapat di
alam ini, nafsu mendorong akal manusia untuk memikirkan cara-cara hidup yang
lebih baik, dan nafsu pula yang mendorong manusia untuk hidup berkeluarga dan
berketurunan. Dalam surah Ali Imran ayat 14 Allah swt berfirman:
صيٍ ن ه بُس
دت ان ش إٓد يٍ
ان سُآء ٍيُجنأ أن ق
بُط يش ان قً ُطشح
يٍ ان ز تْ أن
ف ضخ
أن خ يم ان
سً يٕخ ألا عَبو أن
ذشس
. رن ك
ي زبع ان ذ
يبح ان ذ يَب ألله
ع ذُِ د سٍ
ان ًبة
Artinya:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat yang baik.
Berdasarkan
surah Ali Imran ayat 14 di atas, Al-Falimbani (1995) dan Muhammad (t.t.)
membagi nafsu menjadi dua macam, yaitu nafsu seksual (syahwatul faraj) dan
nafsu perut (syahwatul bathni). Nafsu seksual mendorong dan menyebabkan umat
manusia berkembang dan berketurunan, sedang nafsu perut mendorong akal manusia
untuk memikirkan cara-cara hidupnya yang lebih layak.
BAB
III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Berdasarkan
berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa
hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang
mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik. Hal yang menjadikan manusia
sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki
makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan. Selain itu manusia diciptakan Allah
dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.
3.2
SARAN
Sebagai manusia yang telah mengetahui perannya, alangkah baiknya jika
kita melaksanakan peran kita, tugas kita sebagai seorang khalifah di bumi ini
dengan baik. Manusia telah diberi kelebihan oleh Allah SWT, oleh karena itu
dengan kelebihan tersebut kita akan mampu menjalankan tugas kita sebagai
seorang khalifah dengan tetap berusaha untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Hhtp//www.hakikat
manusia dalam pandangan islam.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar